Daptar Lawan Main Nahdlatul Ulama. Dari Level Kolonial Hingga Kelas Teri
Harian Kuningan – Ada salah satu cara unik untuk mengukur seberapa besar dan berkualitas sebuah organisasi. Dengan melihat siapa saja yang pernah menjadi lawan tandingnya.
Jika dianalogikan sebagai pertandingan tinju, mari kita lihat kartu skor lawan-lawan Nahdlatul Ulama (NU) sepanjang sejarah, dari yang kelas berat hingga yang kelas teri.
Pertama. Di masa perjuangan kemerdekaan, musuh NU tidak main-main. Lawannya adalah kelas berat dunia yang mengganggu kedaulatan bangsa. Ini adalah masa keemasan NU sebagai pejuang murni. Yaitu, Belanda dan Jepang (1942–1949). NU melalui laskar dan ulama-nya (terutama dengan Resolusi Jihad 1945) berada di garis depan melawan kekejaman kolonial yang menjajah bangsa. Ini bukan lawan sembarangan, ini adalah Superpower di zamannya.
Kedua, Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1960-an. Pada masa Orde Lama (sekitar 1950–1966), NU menjadi benteng ideologi Pancasila dan berhadap-hadapan sengit lawan PKI. NU berada di sisi sejarah yang benar. Level lawannya ialah Ideologi global yang mengancam negara.
Ketiga, Orde Baru (1980-an–1998). Ketika Soeharto (Orde Baru) berkuasa, NU yang awalnya akomodatif perlahan menjadi oposisi moral yang kritis. dibawah kepemimpinan Gus Dur, NU melawan penguasa tirani domestik, rejim otoriter yang berkuasa selama 32 tahun.
Dari ketiga priode tersebut, bisa disimpulkan bahwa NU adalah organisasi super. Mereka sukses menumbangkan penjajah, menahan laju komunisme, dan menjadi suara rakyat saat demokrasi mati suri. Jelas, NU adalah organisasi kelas berat.
Namun, setelah Reformasi (1998–sekarang), arena pertarungan NU justru mengecil. NU memang sempat mengirimkan Gus Dur sebagai Presiden (1999–2001), tetapi ia justru dijatuhkan oleh “sisa-sisa orang Orde Baru” yang masih kuat. Sejak saat itu, aroma pesimisme mulai tercium.
Era presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2014). Di era ini, NU masih menunjukkan taringnya, walau sesekali. Kritikan tajam dilayangkan untuk isu lingkungan, minoritas, dan korupsi. Paling tidak, ia masih memosisikan diri sebagai mitra kritis.
Namun ketika di zaman presiden Jokowi (2014–2024), seperti menjadi titik balik. NU seakan kehilangan “suara murni” karena sukses “dijinakkan” oleh kekuasaan. Beberapa tokoh-tokoh NU ditempatkan di posisi strategis, dari menteri hingga komisaris. NU yang besar kini bak disumpal dengan jabatan. Tiba-tiba, taring kritik menghilang.
Bahkan, di masa presiden Prabowo (2024–sekarang), tren penjinakan ini tampaknya berlanjut. NU, sebagai organisasi mayoritas, terasa seperti mainan pemerintah belaka, hanya menjadi pemanis dalam panggung politik tanpa kekuatan tawar-menawar yang signifikan.Puncaknya terjadi baru-baru ini. Setelah melawan kolonial, komunis, dan rezim otoriter, musuh terbaru NU adalah Trans7, sebuah perusahaan media yang tidak terlalu besar. Karena ratingnya sudah kalah oleh Youtube dan media sosial kainya. Pengurus Besar NU (PBNU) bereaksi keras terhadap tayangan program Xpose Uncensored Trans7 (Oktober 2025) yang dinilai menghina martabat pesantren dan kiai.
Jelas, ada penurunan kelas lawan yang drastis! Dari melawan tank Belanda dan ideologi PKI, NU kini berhadapan dengan perusahaan media yang menayangkan program yang dianggap “menggoreng isu”. Jika dulu NU adalah Mike Tyson yang menghadapi Evander Holyfield, kini ia hanya berani menantang petarung kelas teri di turnamen kampung. NU kini seperti merasa lebih terancam oleh meme di media sosial daripada korupsi di istana. ”Dulu berhadapan dengan pistol dan tank. Sekarang, melawan rating TV dan narasi yang nyinyir”. Sungguh tragis, NU yang besar dan bersejarah kini harus turun gunung untuk mengurus masalah tayangan TV. Ini bukan lagi bukti kualitas, melainkan bukti krisis posisi. Bahwa yang sulit dilawan justru godaan kekuasaan dan kursi empuk.
Pertanyaanya, apakah “musuh kelas teri” ini menunjukkan NU sedang dalam masa istirahat panjang setelah pertarungan hebat, atau justru ini adalah cermin bahwa energi kritiknya telah benar-benar habis di hadapan kekuasaan?
Wallahu A’lam Bishawab
Penulis : Didin Gonggong
Aktivis Warung Kopi
